Setiap akhir pekan, begitu selesai subuh, sebuah VW Kodok hitam keluar dari garasi dan menyusuri kampung-kampung serta jalanan Jakarta.
Mobil itu keluaran 1974, tipe 1303. Umurnya sekarang lima puluh dua tahun, dan empat puluh di antaranya dihabiskan bersama orang yang sama.
“Menemani saya dari sejak saya kuliah,” tulis Achsanul Qosasi.
Ia mulai menyukai VW pada 1986, waktu masih kuliah di Jakarta. Alasannya dua, dan ia menyebut keduanya terus terang. Yang pertama bentuknya. Yang kedua sejarahnya — mobil yang lahir pada 1930-an itu, katanya, punya bentuk khas yang berbeda dari mobil mana pun.
Dulu mobil itu dipakai untuk keperluan anak kuliah pada umumnya.
“Mobil itu saya pakai ketika kuliah, untuk jalan-jalan dan juga pacaran,” katanya.
Dan seperti umumnya mobil tua yang dipakai anak kuliah, ia sering bikin repot.
“Banyak pengalaman menarik dengan mobil VW ini, mulai dari mogok, kehabisan bensin, dan mesin yang panas. Paling sering itu karena aki yang soak. Ketika itu saya memang tidak mampu membeli aki baru, sehingga harus didorong dulu dengan bantuan teman-teman.”
Ada pula urusan atap.
“VW saya dulu memiliki sunroof atau atapnya bisa dibuka. Namun, sedihnya bocor ketika hujan. Jadi walaupun naik mobil, tetap basah kuyup.”
Kebiasaan menyusuri Jakarta pada akhir pekan itu sudah berjalan bertahun-tahun, dan dulu ada temannya: lagu-lagu John Denver.
Tiga Tahun, Satu Mobil
VW-nya tidak cuma satu. Dan satu di antaranya ia bangun sendiri, dari keadaan yang sebetulnya sudah tidak berbentuk mobil.
Yang ia beli waktu itu hanya bodinya. Milik seseorang di Kediri — seorang ekspatriat yang bekerja di Gudang Garam — dan sudah lama mangkrak. Barang itu ia bawa ke Jakarta dengan towing.
Lalu dikerjakan pelan-pelan.
“Selama 3 tahun baru siap pakai,” katanya. “Dikerjakan pelan-pelan. Sabar dan fokus. Hehehe.”
Tiga tahun untuk satu mobil. Ia menambahkan satu kalimat sesudahnya, dan kalimat itu terdengar seperti orang yang sedang menertawakan dirinya sendiri sekaligus sedang serius:
“Kalau telaten, sabar dan fokus pasti tercapai keinginan.”
Merawat mobil tua memang bukan perkara uang saja, dan ia tahu betul bedanya.
“Ini mobil tua, bukan Lamborghini, Porsche, atau Jaguar,” katanya. “Perawatannya butuh ketelatenan dan rajin, tentunya dengan senyum yang menyenangkan.”
Lemari Itu
Di dalam rumah ada lemari kaca, dan isinya VW juga — tetapi yang kecil-kecil.
“Saya mengoleksi miniatur VW, yaitu miniatur kecil seperti mainan anak-anak yang kita kenal dengan sebutan diecast,” katanya.
Jumlahnya ratusan, dalam berbagai jenis dan warna. Ia sudah mengumpulkannya sejak masih kuliah, dan asalnya dari delapan belas negara — Brasil, Tiongkok, Jepang, Swiss, Amerika Serikat, dan lain-lain. Diburu di toko mainan dan toko suvenir setiap kali bepergian ke luar negeri, dan di dalam negeri biasanya di toko mainan di pusat perbelanjaan.
Tetapi yang paling ia ingat justru yang paling murah. Satu miniatur ia beli di Pasar Ular, Tanjung Priok, pada 1992, seharga dua ratus lima puluh rupiah.
“Ya biasa jaman muda dulu jalan-jalan ke tempat barang murah, barang bagus dijual murah,” katanya.
Yang paling mahal kebalikannya: sebuah VW Type 1200 keluaran 1964 dengan remote control, dibeli di Jepang seharga seribu dolar Amerika.
Dan koleksi itu tidak hanya dipajang.
“Sampai sekarang masih hobi, kalau libur saya bersihkan atau bongkar pasang lagi,” katanya. “Saya juga punya obeng-obeng kecil untuk bongkar, jadi saya punya alat-alatnya.”
Soal yang bisa dijalankan dengan remote, keterangannya apa adanya.
“Untuk yang remote control, saya mainkan sendiri seperti seorang anak berusia 12 tahun.”
Lalu ia menutup keterangan itu dengan satu kalimat yang mungkin menjelaskan kenapa seseorang mau menghabiskan tiga tahun untuk satu mobil.
“Hobi memang tidak mengenal usia.”
Satu di antara miniatur itu bercat merah-putih, model Baja Bug yang bannya besar-besar, dan di pintunya ada lambang sape kerrab — lambang Madura United.
Yang Ia Tulis Sendiri
Di salah satu unggahannya, foto mobil hitam itu diberi judul dua kata: The Last Mile. Keterangannya ia tutup dengan menyebut nama panjang mobilnya seperti orang menyebut nama lengkap seorang kawan lama — Mobil Rakyat, VolksWagen, Beetle.
Pembaca kanal ini mungkin mengenali dua kata pertama. “Saya menyukainya karena bentuknya tak pernah berubah sejak dilahirkan tahun 1938.”
Ada dua kalimat yang paling sering dikutip orang. Yang pertama tentang mobilnya:
“Mobil tua adalah guru terbaik tentang kesetiaan, merawat dan menghargai.”
Yang kedua ditulis di bawah fotonya sendiri, sedang duduk membongkar sebuah miniatur di meja kerja, dengan lemari kaca di belakangnya:
“Nikmatilah dalam ke-sendiri-an mu atas apa yg kamu senangi. Di sana akan ada penyegaran jiwa, pikiran, dan spiritual.”
Begitulah hari Sabtu dan Minggu di rumah itu. Pagi-pagi keluar dengan mobil berumur lima puluh dua tahun. Siangnya membongkar mobil-mobilan dengan obeng kecil. Sorenya, kalau sedang ingin, menjalankan yang pakai remote di halaman.



