Di Desa Daramista, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep, ada satu hal yang tidak biasa terjadi pada seorang murid sekolah dasar: guru-gurunya yang mencium punggung tangannya, bukan sebaliknya.

Anak itu bernama Achsanul Qosasi, lahir 10 Januari 1966, bungsu dari sepuluh bersaudara. Ayahnya, KH Bahaudin Mudhary, ulama besar dan ahli metafisika yang dihormati bukan hanya di desanya, melainkan di seluruh Madura. Ibunya, Hj. Kutsiyah.

Menjadi anak kiai di Madura berarti menerima banyak kemudahan tanpa memintanya. Ia selalu diberi tahu lebih dulu kapan sekolah akan mengadakan pemeriksaan rambut dan kuku, sehingga tidak pernah sekali pun kena tepukan mistar. Kalau ada soal di papan tulis, guru bertanya lebih dulu apakah ia bisa; kalau tidak, gilirannya dilewati. Dan kalau nilai ulangannya merah, kertasnya tidak dibagikan di depan teman-teman sekelas.

Orang mengira itu menyenangkan. Ia sendiri menulis sebaliknya: “Aku tidak menikmatinya.” Perlakuan istimewa itu justru menumbuhkan seorang anak yang minder, gemetar bila bertemu orang, dan tidak punya nyali maju ke depan kelas.

Di rumah, pekerjaannya lain lagi. Setiap sore, bertahun-tahun, ia menyalakan dua lampu strongking, tujuh lampu templek, dan satu obor. Sebuah tugas yang kalau dilihat sepintas tak ada istimewanya. Tetapi di kemudian hari ia sebut sebagai tempat pertama ia belajar apa artinya mengurus sesuatu yang serba terbatas, dan mengapa hemat bukan sekadar sifat melainkan cara bertahan.

Kemudahan itu berhenti mendadak. Ibunya wafat pada 1978, ketika ia berumur sebelas tahun dan baru saja menamatkan SD Negeri Daramista. Setahun kemudian, saat ia duduk di bangku SMP Negeri 1 Sumenep, ayahnya menyusul. Ia jatuh sakit tifus selama enam bulan dan lama tidak masuk sekolah.

Kehilangan itu melahirkan satu ketakutan yang aneh untuk anak seusianya. Ia tidak takut miskin. Ia takut hidupnya terlalu enak.

“Aku sungguh takut sekali hidupku keenakan jika terus tinggal di Sumenep,” tulisnya. Sembilan kakaknya ada. Murid-murid dan sahabat ayahnya ada. Semua akan beres tanpa ia perlu memikul apa pun. Justru itu yang membuatnya gelisah.

Maka setelah beberapa waktu di SMA Negeri 1 Sumenep, ia memutuskan hijrah. Pindah ke Jakarta, tinggal di rumah kakaknya, Ashfi Raihany, di Pondok Gede. Surat pindah sekolah ia urus sendiri, mendatangi Dinas Pendidikan DKI Jakarta di Jalan Gatot Subroto seorang diri. Ia melanjutkan di SMA Negeri 42.

Jakarta memberinya persis apa yang ia cari, dan itu terasa berat.

Tidak ada lagi gelar istimewa di depan namanya. Nilai jelek dibagikan seperti nilai orang lain. Ia mengalami gegar budaya, sempat stres sampai gatal-gatal di leher dan pundak. Tetapi di sanalah ia berubah. 

Di masjid kompleks Pondok Gede ia mulai salat berjemaah, mengajar anak-anak mengaji, aktif di pengajian dan kegiatan sosial — sampai pengurus masjid menunjuknya menjadi Ketua Ikatan Remaja Masjid. Anak yang di Madura tidak berani maju ke papan tulis, di Jakarta memimpin rapat.

Ia gagal masuk perguruan tinggi negeri. Kakaknya menarik napas panjang, lalu memberinya uang pendaftaran dan satu kalimat: “Ya sudah, kamu carilah maumu apa, kuliah di mana.” 

Ia mendaftar ke Fakultas Ekonomi Universitas Pancasila. Untuk menebus rasa bersalah kepada kakaknya, ia memburu kelulusan — sarjana dalam tiga setengah tahun, tamat 1989.

 

Delapan belas tahun di bank

Tahun 1990 ia masuk Bank Bukopin. Dari sanalah ia belajar satu hal yang kelak menjadi pokok pikirannya seumur hidup: bagaimana kredit macet terjadi, dan siapa yang sebenarnya bisa dipercaya.

Tugas yang membuat namanya dikenal datang dalam bentuk tumpukan berkas kredit macet. Ia membawanya pulang, mempelajarinya tiap malam, menempel tabel data dan lini masa di dinding kamar, lalu menyusun strategi dan menemui langsung direksi serta komisaris perusahaan penunggak. 

Total tunggakan yang akhirnya terurai sekitar enam belas miliar rupiah — angka yang besar sekali pada masa itu, ketika satu pinjaman terbesar pun hanya lima miliar.

Karier perbankannya berjalan delapan belas tahun, melintasi Bank Bukopin, Bank Putera Multikarsa, Bank Solida, Bank Pikko, Bank Persyarikatan Indonesia, dan BPR Luwuk, dengan jabatan terakhir Direktur Bank Swasta Nasional. 

Pada 1995 Bank Indonesia menyebutnya Youngest Branch Manager of Banks. Setahun berikutnya cabang yang ia pimpin dinyatakan terbaik se-Indonesia.

Ia menghabiskan hampir dua dasawarsa di dalam sistem yang bekerja dengan agunan. Dan justru dari dalam itulah ia melihat siapa yang selamanya berada di luar jangkauannya.

 

19 Juni 1998

Tahun 1998 rupiah runtuh, bank-bank tutup, dan orang yang punya tabungan berlarian menyelamatkannya. Pada tahun itu pula ia berangkat ke India untuk Micro Credit Summit bersama Credit Union of India, dan mengikuti kursus kredit mikro dengan pendekatan Grameen Bank di Filipina dan Bangladesh.

Pada 19 Juni 1998, dengan modal lima belas juta rupiah, berdirilah Koperasi PS Merpati di Petukangan Selatan, Jakarta Selatan.

Yang ia kumpulkan bukan nasabah. Ia mengumpulkan anak-anak muda yang menganggur dan tukang ojek di kampung yang waktu itu tingkat kriminalitasnya tinggi. Orang-orang yang penghasilan hariannya hanya cukup untuk makan hari itu, dan yang oleh bank mana pun akan ditolak dalam lima menit. Bukan karena tidak bisa membayar, melainkan karena tidak punya barang untuk dijaminkan.

“PS Merpatilah priviledge mereka,” tulisnya kemudian.

Tantangan terberatnya bukan permodalan, melainkan meyakinkan orang-orang itu bahwa masa depan masih mungkin mereka genggam dan bahwa syaratnya cuma tiga: giat, disiplin, jujur.

Dua puluh empat tahun kemudian, modal lima belas juta rupiah itu telah menjadi tiga puluh enam miliar. 

Dan pada 22 Februari 2022, di Aula Garuda Mukti Surabaya, seluruh pengalaman itu ia susun menjadi orasi ilmiah berjudul “KUTABUNG: Strategi Pemberdayaan Ekonomi Masyarakat Kecil untuk Bertahan Hidup Melalui Koperasi sebagai Rumah Besar UMKM”, saat Universitas Airlangga mengukuhkannya sebagai Guru Besar bidang Ilmu Manajemen pada Fakultas Ekonomi dan Bisnis.

 

Tiga jalan yang tidak pernah berpisah

Sejak itu jalan hidupnya melebar, tetapi selalu berputar pada satu pertanyaan yang sama: bagaimana orang kecil bisa bertahan.

Ekonomi rakyat. Ia duduk di Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah (2001–2006), mengasuh rubrik usaha kecil mikro di Harian IndoPos Jakarta dan Metro Jawa Timur (2006–2007), memimpin Garuda Tani Nusantara (2008–2014), menjadi Wakil Ketua Umum Dekopin (2009–2014) dan Wakil Ketua Umum HKTI (2010–2015). Sejak 2008 ia memimpin Kelompok Usaha Produktif Pojur di Madura.

Keuangan. Ia menjadi anggota DPR RI, Wakil Ketua Komisi XI yang membidangi keuangan dan perbankan, sekaligus Wakil Ketua Fraksi Partai Demokrat. Pada Oktober 2014 ia masuk Badan Pemeriksa Keuangan RI sebagai Anggota VII, berpindah menjadi Anggota III pada April 2017, dan dilantik kembali pada Oktober 2019. Di sepanjang masa itu ia mengambil sertifikasi profesi pemeriksa keuangan negara dan auditor forensik. Pada 2019 ia menerima Tanda Kehormatan Bintang Jasa Utama.

Sepak bola. Ketua Umum Persija Selatan (2000–2011), Direktur Keuangan PSSI (2003–2007), lalu Bendahara sekaligus anggota Komite Eksekutif PSSI (2007–2011). Pada 2016 ia mendirikan Madura United — bukan sekadar klub, melainkan wadah untuk mempersatkan dan mengharumkan nama Madura.

 

Pulang

Nama ibunya, Kutsiyah, dan nama ayahnya, Bahaudin Mudhary, hari ini berdiri berdampingan di satu tempat: Yayasan Kudsiyah Bahaudin Mudhary Madura, yang ia pimpin sejak 2015, dan yang menyelenggarakan Universitas KH Bahaudin Mudhary Madura di Sumenep.

Anak bungsu yang dulu takut hidupnya keenakan bila tetap tinggal di Madura, akhirnya kembali — membawa sesuatu yang tidak ia miliki ketika pergi.

Ia menulisnya sendiri dengan kalimat yang lebih ringkas: “Masa depan bisa digenggam, dari mana pun asalmu, dari mana pun kamu memulai, di mana pun kamu berpijak.”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *