Sabtu, 17 Oktober 2026

PS Merpati: Koperasi yang Mengubah Wajah Petukangan

Achsanul Qosasi di acara Koperasi PS Merpati
Bagikan
Teks

Pada 10 Oktober 2026, Koperasi PS Merpati di Petukangan Selatan, Jakarta Selatan, memasuki tahun kedua puluh delapan. Tanggal itu bukan tanggal akta pendiriannya, melainkan tanggal rapat anggota pertamanya pada 1998, yang sejak itu mereka pakai sebagai hari lahir.

Dalam dua puluh dua tahun pertama, aset koperasi itu tumbuh menjadi tiga puluh enam miliar rupiah.

Pada 22 Februari 2022, berdiri di hadapan Senat Akademik Universitas Airlangga untuk dikukuhkan sebagai Guru Besar, pendirinya menampilkan angka itu di layar. Bukan sebagai pencapaian. Ia menampilkannya sebagai bukti bahwa koperasinya berkembang pelan.

“Dalam jangka waktu 22 tahun kenaikan aset baru mencapai Rp. 36 milyar,” katanya. “Inilah yang disebut perkembangan bertahap. Tak perlu cepat besar.”

Orang jarang memakai kesempatan dikukuhkan menjadi guru besar untuk memperlihatkan bahwa dirinya tumbuh lambat.

Tetapi angka itu memang bukan ukuran yang tepat untuk menilai koperasi ini. Ukuran yang tepat ada di kampungnya.

Dua puluh delapan tahun sebelumnya, pada 1998, Petukangan Selatan sedang kehilangan pekerjaannya. Kampung itu hidup dari konveksi — industri kecil yang menjadi andalan dan pendapatan utama warganya. Krisis menutupnya satu per satu. Pengangguran nasional melonjak sampai tiga puluh enam juta orang, dan di kampung itu angka tersebut berwujud laki-laki muda yang beralih menjadi pengojek, atau tidak bekerja sama sekali.

Tidak ada sawah dan tidak ada kebun yang bisa digarap di Petukangan Selatan. Yang tersisa hanya jasa dan jual-beli. Dan pemuda yang kehilangan pekerjaan di kampung yang tidak punya lahan, adalah pemuda yang masa depannya terancam.

Di kampung itu tinggal seorang bankir asal Madura, pendatang di lingkungan Betawi yang masih sangat kental. Ia sudah bertahun-tahun bekerja di dalam sistem yang menyalurkan uang berdasarkan agunan, dan karena itu ia tahu persis siapa yang tidak akan pernah terjangkau olehnya. Bukan orang yang tidak mampu membayar. Orang yang tidak punya barang untuk dijaminkan.

Ia juga tahu satu hal yang tidak terlihat dari balik meja bank: untuk masuk ke kampung itu, orang harus lebih dulu menjadi bagian dari kegiatan para pemuda. Dan kegiatan pemuda di Petukangan Selatan artinya sepak bola.

Maka pada 26 Juni 1998 yang berdiri lebih dulu bukan koperasi, melainkan sebuah komunitas yang berkumpul lewat pengajian dan bermain bola: PS Merpati, Persatuan Sepakbola Merpati. Namanya bukan ia yang memilih. Merpati adalah nama leluhur warga Petukangan Selatan, turun-temurun sejak 1960-an, dan nama itu diusulkan para tokoh serta sesepuh yang memang lahir dan besar di sana.

Tiga bulan kemudian, pada 29 September 1998, sembilan orang mendirikan koperasinya: Achsanul Qosasi, Agus M Nuh, Andri Nurdiansyah, Jakwan, Nahrawi, Husein, Arfan, Rusli, dan Yudi. Seluruh anggotanya pemuda Petukangan Selatan. Modalnya hanya dari simpanan pokok, lima belas juta rupiah. Pada 10 Oktober mereka menggelar rapat anggota yang pertama.

Usaha pertamanya sembako, dan omsetnya pernah mencapai seratus lima puluh juta rupiah dalam sebulan.

Lalu rugi.

Kantor yang Sepi

Pada 1999, umur koperasi itu belum genap setahun ketika rapat memutuskan usahanya dihentikan.

“Kesedihan seringkali muncul apabila melihat kantor koperasi yang sepi dari kegiatan,” tulis ketuanya. “Pengurus dan anggota kembali menganggur dan menjalani kehidupan yang tanpa harapan.”

Pengajian rutin yang dulu menjadi tempat merancang usaha berubah fungsi. “Hanya menjadi sarana untuk mengenang kegagalan,” tulisnya, “disertai lelucon ala Betawi yang muncul sebagai penyebab kegagalan.” Orang mulai saling menyalahkan dan saling membenarkan pendapatnya sendiri. Hampir pecah.

Yang menahannya, menurut catatan itu, bukan uang dan bukan rencana baru, melainkan komitmen kebersamaan yang sudah tertanam sejak sebelum koperasinya ada. Sepak bola dan pengajian berdiri lebih dulu bukan karena kebetulan; pada tahun itulah dua hal tersebut membuktikan gunanya.

Pada Januari 2000 pengurus berkumpul lagi dan memutuskan sebaliknya. Keputusannya disertai tiga syarat yang ditulis dengan kalimat sederhana: menghargai pengalaman, tidak mengulang kesalahan, tetap menjaga kebersamaan.

Yang berubah sesudah itu bukan semangatnya. Semangat sudah ada sejak awal, dan semangat itulah yang gagal. Kalimat beliau tentang 1998 berbunyi begini: “Usaha yang hanya mengandalkan semangat memang ternyata belum cukup, juga diperlukan suatu keahlian dan ketekunan yang stabil dan sabar.”

Yang berubah adalah cara mengerjakannya. Orang yang memang ahli direkrut untuk memegang bidangnya. Karyawan dilatih sebelum diterjunkan. Anggaran disusun. Dan arah usahanya dibalik: dari berdagang untuk mencari untung, menjadi simpan pinjam untuk melayani anggota.

Usaha dagangnya sendiri tidak ditutup, malah melebar satu per satu sepanjang awal 2000-an — mulai dari mengedarkan oli ke bengkel-bengkel kecil di Jakarta Selatan, lalu perdagangan aspal untuk pembangunan daerah di era otonomi, lalu air mineral kemasan, lalu gerai telepon seluler yang pada 2005 sudah berjumlah sembilan di wilayah Jakarta Selatan dengan omset lima ratus juta rupiah sebulan. Semuanya dikerjakan oleh orang kampung itu sendiri.

Dalam waktu kurang dari tiga tahun koperasi itu punya kantor sendiri di Jalan Inpres Nomor 7, dengan dua puluh satu karyawan pada 2003. Pada 1 April 2005 pengurus mengeluarkan surat keputusan restrukturisasi, memisahkan unit-unit usaha agar masing-masing berdiri di atas kakinya sendiri. Pada tahun yang sama koperasi itu sudah melayani lebih dari seribu empat ratus orang di Petukangan Selatan dan sekitarnya.

Empat Ratus Ribu

Untuk mengerti koperasi ini, angka yang perlu dilihat bukan tiga puluh enam miliar, melainkan empat ratus ribu.

Itu besar pinjaman pertama yang boleh diambil seorang anggota. Sesudah sepuluh minggu, kalau angsurannya tertib, jumlahnya bisa ditambah — dan setiap penambahan modal harus diikuti penambahan jenis atau jumlah dagangan. “Jadi kita tidak sekedar memberikan pinjaman,” demikian prinsipnya, “tetapi sekaligus mengajarkan bagaimana berusaha, pinjaman tidak habis untuk konsumsi.”

Modal berjualan seorang anggota rata-rata sekitar dua juta rupiah. Mereka pedagang kecil yang bertransaksi tunai. “Sore hari belanja, malam hari bekerja, dan menyajikan jualannya keesokan harinya. Mereka tak kenal lembur, tak kenal ROI dan ROA.” Mereka berjualan, kata pendirinya, bukan untuk menjadi kaya, melainkan untuk bertahan hidup.

Produk simpanannya diberi nama menurut keperluan hidup orang, bukan menurut istilah keuangan: Simpati, simpanan sukarela, simpanan qurban, simpanan pendidikan. Pinjamannya tiga macam: modal kerja, investasi, dan rumah tangga. Pinjaman rumah tangga adalah jenis pinjaman yang tidak dijual bank mana pun.

Lalu ada satu angka yang membuat seluruh gagasan ini sulit dibantah. Kredit macet koperasi ini bertahan di kisaran satu persen.

Satu persen, pada pinjaman yang diberikan tanpa agunan, kepada orang-orang yang ditolak oleh hampir setiap lembaga keuangan formal justru karena dianggap terlalu berisiko.

Pendirinya meringkas sebabnya dalam satu kalimat tentang perbedaan dua dunia yang ia tinggali. Di perbankan, katanya, kata kuncinya adalah modal. Di lembaga keuangan mikro, kata kuncinya adalah tabungan.

Karena itu menabung di koperasi ini bukan anjuran melainkan kewajiban, dan uangnya dijemput ke tempat anggota berjualan. Untuk jumlah tertentu, tabungan hanya bisa ditarik saat lebaran dan saat tahun ajaran baru. Keduanya waktu ketika keluarga paling butuh uang tunai, dan keduanya waktu ketika orang paling mudah berutang kepada siapa saja.

Ada kalimat tua yang dikutip pendirinya untuk menjelaskan prinsip itu, dari Raden Aria Wiriatmaja, seorang patih yang mendirikan koperasi simpan pinjam di Purwokerto pada 1896:

“Di sini tidak ada majikan dan buruh, melainkan usaha bersama antar mereka yang sama kepentingannya dan tujuannya.”

Wajah yang Berubah

Yang berubah di Petukangan Selatan tidak bisa diukur dari neraca koperasinya.

Pada 1998, menurut catatan pendirinya, kampung itu diliputi dua hal sekaligus: pemuda yang kehilangan pekerjaan, dan peredaran narkoba yang mudah menjalar pada pemuda yang tidak punya kegiatan. Yang pertama membuat yang kedua berbahaya.

Dua puluh delapan tahun kemudian, kalimat yang dipakai pendirinya untuk menggambarkan keadaan bukan lagi tentang ancaman. “Perekonomian Petukangan Selatan kembali bergeliat,” tulisnya, “dan sebagian warga sudah mengharapkan putera-puterinya untuk bekerja bersama Koperasi.”

Itu satu kalimat yang mudah dilewati, padahal isinya adalah seluruh perubahannya. Sebuah kampung yang pada 1998 anak-anaknya tidak punya tempat bekerja, menjadi kampung yang orang tuanya berharap anaknya bekerja di koperasi kampungnya sendiri. Pada 2022, dari perputaran koperasi itu hidup lima puluh empat karyawan beserta keluarganya.

Koperasinya juga tidak pernah berdiri sendirian. Kantor di Jalan Inpres itu menjadi tempat warga berkumpul, bukan sekadar tempat menyetor dan meminjam. Pengajian rutin tetap berjalan, dan rapat anggota tahunan digelar menyatu dengan pengajian itu — sehingga laporan keuangan koperasi dibacakan di forum yang sama tempat orang berdoa bersama. Sepanjang Ramadan koperasi menyiapkan takjil gratis setiap hari. Setiap ada turnamen besar sepak bola dunia, Jalan Inpres ditutup dan warga menonton bersama di layar lebar di halaman kantor sampai pagi. Kegiatan kepemudaan diserahkan kepada karang taruna, dengan maksud yang ditulis terus terang: supaya mereka belajar berorganisasi dan mengambil keputusan sendiri.

Dan tim sepak bola yang berdiri paling awal itu tidak pernah dibubarkan. PS Merpati menjadi peserta Divisi Utama Persija Selatan, dan menurut catatan pendirinya cukup disegani di kawasan Jakarta Selatan dan Tangerang. Kalau ia bertanding, hampir seluruh warga kampung menjadi suporternya.

Dari semua itu, kalimat yang paling ringkas menjelaskan apa yang terjadi pada kampung tersebut adalah kalimat pendirinya tentang bagaimana warga memperlakukan usaha mereka: “Cibiran berubah menjadi pujian, ledekan berubah menjadi kalimat yang memacu semangat.”

Tahun 2020

Tahun yang paling menerangkan dalam riwayat koperasi ini bukan 2022, ketika angkanya paling bagus. Tahun itu 2020.

Ketika pandemi memuncak dan anggota tidak bisa berjualan, koperasi membebaskan mereka dari kewajiban mengangsur. Akibatnya langsung terlihat di pembukuan: Sisa Hasil Usaha koperasi menjadi minus. Kerugian itu ditutup dari cadangan yang dipupuk bertahun-tahun, dan anggota menyambung hidup dari tabungan mereka sendiri yang selama bertahun-tahun dipaksa dikumpulkan.

Lembaga yang dibangun untuk menolong orang kecil, pada tahun tersulitnya, diselamatkan oleh simpanan orang kecil itu sendiri.

Itulah yang dibawa ke Universitas Airlangga pada 22 Februari 2022, dalam orasi ilmiah berjudul KUTABUNG — kerja, untung, tabung. Orasi itu tidak mengambil satu pun contoh dari lembaga lain. “Referensi saya adalah apa yang terjadi dan dirasakan oleh saya sendiri,” katanya, “sebagai pengelola LKM Koperasi PS Merpati.” Sepuluh prinsip yang dibacakannya di sana — empati, inovasi, fokus, bertahap, lindungi, disiplin, peduli, kebersamaan, menabung, evaluasi — seluruhnya diuji lebih dulu di satu kampung di Jakarta Selatan, termasuk bagian yang gagal pada 1999.

Dua puluh delapan tahun sesudah rapat anggota yang pertama, koperasi itu masih berada di Petukangan Selatan, masih melayani kampung yang sama, dan masih tumbuh dengan kecepatan yang oleh ukuran mana pun disebut lambat.

Kelambatan itu bukan kekurangannya. Itu rancangannya. Lembaga keuangan yang tumbuh cepat akan menanggung biaya dan ketidaksiapan pengelolaan, dan yang paling dulu menanggung akibatnya adalah orang yang paling tidak punya cadangan. Koperasi yang menolak cepat besar adalah koperasi yang masih ada ketika pandemi datang.

Dari semua yang pernah didirikan Achsanul Qosasi, ini yang paling kecil ukurannya dan paling lama umurnya. Dan dari seluruh angka yang dihasilkannya selama dua puluh delapan tahun, yang paling berarti bukan tiga puluh enam miliar.

Yang paling berarti adalah satu persen — dan satu kampung yang anak-anaknya ingin bekerja di sana.

Prof. Dr. Achsanul Qosasi
Tentang penulis
Prof. Dr. Achsanul Qosasi
Dari Madura untuk Indonesia
Kenali lebih dekat →