Ada satu keyakinan yang ia pegang lama sebelum ia punya perusahaan di Madura: Kemajuan sebuah daerah ditentukan oleh ekonominya. Dan ekonomi sebuah daerah ditentukan oleh kemampuan orang-orang mudanya berusaha.
Modal bisa habis. Bantuan bisa berhenti. Keterampilan berdagang, mengelola untung, menghitung risiko, dan bertahan ketika dagangan sepi — itu tidak bisa diambil kembali oleh siapa pun.
Maka yang ia bangun pertama kali bukan perusahaan, bukan koperasi, dan bukan pabrik.
Yang ia bangun satu rubrik di koran.
Namanya Pojok Usaha Produktif. Isinya bukan artikel dan bukan opini, melainkan jawaban: orang menuliskan persoalan usahanya, dan ia menjawab. Dalam daftar riwayat hidupnya, bagian ini tercatat ringkas — pengasuh dan pengelola rubrik usaha kecil mikro pada Harian IndoPos Jakarta dan Metro Jawa Timur.
Rubrik konsultasi usaha bukan pekerjaan yang biasanya dicatat orang sebagai permulaan sesuatu. Ia tidak punya kantor, tidak punya aset, dan tidak menghasilkan apa-apa yang bisa dihitung.
Yang ia hasilkan adalah orang.
Sebuah Bengkel di Bangkalan
Pada 2001, di Bangkalan, sebuah keluarga menjalankan bengkel bernama PT Sinar Jaya. Pelanggan yang memperbaiki kendaraannya di sana harus menunggu lama, dan di sekitar bengkel itu tidak ada warung tempat mereka makan.
Hj. Muslehah, kakak dari orang yang mengelola bengkel tersebut, mengusulkan sesuatu yang masuk akal untuk keadaan itu: buka warung. Yang dijual bebek, sebab keluarga itu yakin orang Madura menyukainya. Ia menjalankannya bersama suaminya, M. Soleh.
Resep pertamanya berkuah. Dan resep pertama itu gagal — pembelinya berkurang.
Mereka menggantinya dengan bebek goreng berbumbu kering.
Warung itu kemudian pindah ke Jalan Raya Ketengan Nomor 45, Bangkalan, pada 2008. Namanya diambil dari singkatan bengkel keluarganya: Sinar Jaya, menjadi Sinjay.
Hari ini Bebek Sinjay memotong tiga ratus sampai lima ratus ekor bebek setiap hari, mempekerjakan tiga puluh orang, menyediakan lebih dari lima ratus tempat duduk yang hampir selalu penuh, dan antreannya bisa satu setengah jam. Ia punya cabang di Surabaya dan Malang. Orang menyeberang dari Surabaya hanya untuk makan di sana.
Pemiliknya termasuk di antara orang-orang yang dulu berkonsultasi dengan Achsanul Qosasi tentang usahanya, di rubrik Koran Jawa Pos itu.
Perhatikan di mana letak titik baliknya. Bukan pada modal, sebab warung itu dibuka dengan modal keluarga sendiri. Bukan pada tempat, sebab lokasinya justru di pinggir jalan di sebelah bengkel. Titik baliknya adalah keputusan dan manajemen.
Itu keputusan yang hanya bisa diambil orang yang tahu membaca pasarnya sendiri. Dan kemampuan membaca pasar sendiri persis yang tidak diajarkan oleh bantuan modal mana pun.
Dari Pojok ke Kelompok
Rubrik tidak bisa menjawab lebih dari satu persoalan dalam satu waktu, dan jawaban di koran berhenti ketika korannya dibuang.
Yang berikutnya ia kerjakan adalah membuat jawaban itu berbadan.
Dalam daftar riwayat hidupnya tercatat ia memimpin Kelompok Usaha Produktif Pojur sejak 2008. Tetapi sebagai badan usaha, Pojur berjalan pada 2015 — pada Agustus 2025 ia memperingati tahun kesepuluh.
Jarak tujuh tahun itu perlu dibaca pelan-pelan. Pada rentang tersebut ia menjadi anggota Dewan Perwakilan Rakyat, lalu masuk Badan Pemeriksa Keuangan. Gagasannya ada, tetapi belum berbadan hukum, belum berkantor, dan belum mempekerjakan siapa pun.
Di tulisan tentang Koperasi PS Merpati sudah disebut prinsip yang ia pegang: jangan dipaksa besar sebelum siap. Pojur adalah contoh kedua dari prinsip yang sama, pada perkara yang jauh lebih besar dan di pulau sendiri.
Perhatikan juga kata-katanya. Rubriknya bernama Pojok Usaha Produktif. Kelompok usahanya bernama Kelompok Usaha Produktif Pojur. Dua kata itu berpindah utuh dari halaman koran ke papan nama sebuah perusahaan, dan tidak pernah diganti.
Panglegur Km 1
Pada Sabtu malam, 6 Oktober 2018, di Jalan Raya Panglegur Nomor 10 Km 1, Tlanakan, Pamekasan, kantor KUP Pojur diresmikan. Prasastinya ditandatangani dua orang: Achsanul Qosasi, dan Bupati Pamekasan waktu itu, H Baddrut Tamam.
“Mari kita bersatu dalam kepedulian, kebersamaan dan kedisiplinan,” katanya malam itu. “KUP Pojur ini oleh Madura dan untuk Madura.”
Bupati yang ikut menandatangani prasasti menambahkan keterangannya sendiri. “Beliau putra daerah yang sangat cinta dengan Madura,” katanya.
Pada daftar yang menyertai peresmian itu tercantum sebelas perusahaan yang bernaung di bawah Pojur. Sebagian namanya tidak akan dikenali orang di luar Madura. Tetapi tiga di antaranya akan dikenali siapa pun yang membaca halaman-halaman lain di rubrik ini.
STIEBA Madura — sekolah tinggi yang sebelas bulan kemudian berubah menjadi Universitas KH Bahaudin Mudhary Madura.
PT Polana Bola Madura Bersatu — badan hukum yang mengelola Madura United.
PT Media Jatim Kabar Indonesia — penerbit Kabar Madura, surat kabar yang hari ini sudah berumur lebih dari empat belas tahun.
Artinya kampus dan klub itu bukan dua warisan yang berdiri sendiri-sendiri lalu kebetulan dikerjakan orang yang sama. Keduanya kamar di dalam satu rumah. Dan rumah itu tumbuh dari sebuah rubrik konsultasi usaha.
Belasan Perusahaan, Ratusan Orang
Hari ini KUP Pojur menaungi belasan perusahaan, dan dari perputarannya hidup ratusan karyawan. Bidangnya bermacam-macam — perdagangan, properti, media, pendidikan, olahraga.
Keberagaman itu bukan kebetulan, dan ia menjelaskan maksudnya. Kelompok usaha yang disusun untuk mencari untung sebesar-besarnya akan memilih satu atau dua bidang paling menguntungkan, lalu mendalaminya. Kelompok usaha yang disusun untuk menyerap tenaga kerja di sebuah pulau akan terlihat seperti Pojur: menyebar, mengikuti ke mana orang bisa bekerja.
Pada halalbihalal bersama ratusan karyawannya di Sumenep, 21 April 2025, ia menyatukan semuanya dalam satu kalimat.
“Semua ini adalah untuk memajukan Madura,” katanya.
Lalu ia menerangkan tiga yang terbesar satu per satu, dan keterangannya berbeda-beda sesuai pekerjaan masing-masing.
Pojur adalah tempat orang bekerja — belasan perusahaan, dan nafkah yang harus dijaga bersama-sama.
Madura United ada untuk mengubah sikap: agar orang Madura belajar menerima kekalahan dan mensyukuri kemenangan.
Dan UNIBA Madura ia gambarkan sebagai bengkel, tempat anak-anak muda Madura diperbaiki. Pelajaran utamanya satu.
“Perbedaan hanya bisa dikikis dengan pendidikan, yang baik dan benar,” katanya.
Tiga lembaga, tiga pekerjaan yang berlainan — pekerjaan, sikap, dan pikiran. Pada acara itu ia meminta para karyawannya menjaga bersama nafkah yang mereka peroleh dari ketiganya. Permintaan semacam itu hanya masuk akal diucapkan kepada orang yang tahu bahwa ketiganya satu.
Sembilan Agustus
Pada Sabtu, 9 Agustus 2025, di sebuah aula hotel di Pamekasan, KUP Pojur memperingati sepuluh tahun. Acaranya tasyakuran.
Yang disampaikan presidennya di sana bukan laporan keuangan dan bukan rencana ekspansi. Dua kalimat, dan keduanya tentang perangai.
“Harus besar hati sebagai orang Madura.”
“Saat sukses, jangan sampai lupakan Madura!”
Kalimat yang kedua tidak diucapkan kepada orang asing. Ia diucapkan di sebuah aula di Pamekasan, kepada orang Madura, oleh orang Madura yang pernah pergi.
Sebab orang yang mengucapkannya meninggalkan pulau ini ketika masih belasan tahun — bukan karena kekurangan, melainkan karena takut hidupnya terlalu mudah bila ia tetap tinggal sebagai anak seorang kiai besar. Ia menyeberang ke Jakarta, bekerja delapan belas tahun di perbankan, dan selama empat puluh tahun berikutnya hidupnya berpusat di sana.
Peringatan “jangan lupakan Madura” paling berat artinya ketika diucapkan oleh orang yang sempat jauh.
Orang Pojur
Pada Minggu, 7 Juni 2026, ribuan orang berjalan kaki bersama di Stadion Gelora Madura Ratu Pamelingan, Pamekasan. Acaranya jalan-jalan sehat, menandai empat belas tahun Kabar Madura — surat kabar yang ia dirikan, dan yang penerbitnya ada di daftar sebelas perusahaan tahun 2018 itu.
Di ujung sambutannya ia mengucapkan satu kalimat yang terdengar seperti selipan, dan sebenarnya bukan.
“Semoga kita semua menjadi orang Pojur.”
Pojur, dalam kalimat itu, bukan lagi nama sebuah perusahaan. Ia merujuk pada kata dalam bahasa Madura yang artinya beruntung.
Dan kalau seluruh riwayat di halaman ini dibaca berurutan — rubrik di koran, warung bebek di sebelah bengkel, kantor di Panglegur, sebelas perusahaan, kampus, klub, surat kabar, ratusan karyawan — maka isi sebutan itu bisa diterka tanpa perlu dijelaskan siapa pun.
Orang Pojur adalah orang yang bisa berusaha sendiri, dan yang hasil usahanya kembali ke tempat ia berasal.
Yang bisa dihitung dari Pojur hanya satu, dan angkanya belum pernah diumumkan siapa pun: berapa orang Madura yang hari ini membawa pulang nafkah dari rumah di Panglegur Km 1 itu.
Tetapi angka yang sesungguhnya dicarinya sejak dulu bukan itu juga. Yang dicarinya berapa orang Madura yang hari ini bisa membuka usahanya sendiri tanpa perlu bergantung pada siapapun.



