Sabtu, 17 Oktober 2026

Membangun Klub, Membangun Kebanggaan Madura

Achsanul Qosasi menyapa suporter Madura United
Bagikan
Teks

Selama bertahun-tahun, kalau orang di luar pulau menyebut kata Madura, yang muncul di kepala mereka adalah carok dan celurit. Garam, tembakau, tanah kering yang panas. Orang keras yang merantau jauh.

Itu daftar yang sudah puluhan tahun dipakai orang luar untuk meringkas sebuah pulau berpenduduk beberapa juta orang, empat kabupaten, dan ribuan pesantren — dan daftar itu tidak pernah memuat satu pun hal yang bisa dibanggakan di depan orang Indonesia lain.

Madura bukan tidak punya klub sepakbola. Persepam sudah berdiri di Pamekasan sejak 1970. Puluhan tahun ia bermain di kasta bawah, dan puluhan tahun pula pulau itu menonton klub-klub dari kota lain mengisi liga tertinggi.

Perubahan terjadi pada tahun 2012 saat akhirnya Persepam promosi dari Divisi Utama ke Indonesia Super League untuk pertama kalinya.

Perubahan itu sungguh berkesan. Tidak hanya bagi warga Pamekasan, tapi juga bagi warga Madura secara umum. Ini karena tambahan nama Madura United di belakang nama Persepam.

Untuk pertama kalinya Madura punya klub di kasta tertinggi sepak bola Indonesia.

Orang yang menghadirkan perubahan itu adalah Achsanul Qosasi.

Menit Terakhir di Jayapura

Achsanul Qosasi tidak datang ke sepak bola Madura sebagai pendatang baru. Sejak 2000 ia Ketua Umum Persija Jakarta Selatan, lalu Direktur Keuangan PSSI pada 2003–2007, lalu Bendahara PSSI merangkap anggota Komite Eksekutif pada 2007–2011. Ia sudah lebih dari sepuluh tahun berada di dalam ruangan tempat sepak bola Indonesia diurus ketika ia memutuskan membawa perhatiannya pulang ke pulaunya sendiri.

Dan ia membawa satu hal yang pada waktu itu tampak sebagai urusan administrasi belaka. Hak atas nama, kostum, dan julukan klub itu dipegang oleh perusahaan miliknya sendiri, PT Pojur Madura United. Nama yang dipakai klub itu di ISL: Persepam Madura United. Julukannya Laskar Sape Kerrab.

Jadi sebelum ada klub bernama Madura United, nama itu sudah ada. Ia membawanya sejak percobaan yang pertama.

Percobaan pertama itu berlangsung dua musim, dan berakhir dengan cara yang paling sulit diterima.

Pada 5 September 2014, di Jayapura, Persepam membutuhkan hasil seri untuk tetap tinggal di kasta tertinggi. Sampai menit ke-90 skornya masih imbang. Lalu, pada tambahan waktu, gawangnya kebobolan. Klub itu berakhir dengan poin yang sama dengan Perseru Serui dan turun karena selisih gol.

Satu gol di menit terakhir, dan Madura kehilangan klubnya di kasta tertinggi.

Tetapi yang menyusul sesudahnya lebih berat daripada degradasinya sendiri. Sepanjang musim itu tekanan terus datang agar klub tersebut dikembalikan pengelolaannya kepada pemerintah kabupaten. Sejak Maret 2014 permintaan itu sudah disampaikan secara terbuka. Dukungan di tribun ikut terbelah, dan kursi stadion di laga kandang tidak lagi penuh.

Sesudah musim itu selesai, Achsanul akhirnya menyerahkan pengelolaan klub kepada Pemerintah Kabupaten Pamekasan.

Karena hak atas nama, kostum, dan julukan itu dipegang perusahaannya, ketiganya tidak bisa ikut diserahkan. Nama Madura United dicabut dari klub tersebut. Kostumnya diganti. Julukannya diganti.

Pada tahun yang sama ia dilantik sebagai anggota Badan Pemeriksa Keuangan. Dan ia pergi dari sepak bola kira-kira satu tahun.

Itu bagian dari riwayat ini yang paling jarang diceritakan, dan justru bagian itu yang menjelaskan segalanya. Sebuah gagasan yang dikerjakan orang yang tidak pernah gagal gampang dicurigai. Gagasan yang pernah ditinggalkan pemiliknya selama setahun, lalu dikerjakannya lagi dari awal, adalah gagasan yang sudah diuji.

Sepuluh Januari

Pada 10 Januari 2016, Madura United berdiri.

Tanggal itu tanggal lahir Achsanul Qosasi, dan hari itu ia berumur lima puluh tahun. Empat tahun kemudian ia memakai tanggal tersebut sebagai judul memoar sepak bolanya, 10.01 Cerita Bola.

Klub itu dikelola PT Polana Bola Madura Bersatu, dengan Haruna Soemitro sebagai manajer. Kostumnya merah-putih bergaris. Kandangnya Stadion Gelora Ratu Pamelingan di Pamekasan, dan sebagian laga dimainkan di Gelora Bangkalan. Julukannya kembali seperti semula: Sape Kerrab, sapi kerapan.

Nama yang empat belas bulan sebelumnya dicabut dari sebuah klub, kini diberi klub lagi.

Dan kali ini nama itu dipilih bukan sebagai penanda kepemilikan, melainkan sebagai pekerjaan. Kata United di belakang nama pulau itu bukan hiasan. Alasan pemilihannya disebut terus terang sejak awal: untuk menyatukan orang Madura.

Keterangan yang ia ulang sejak masa Persepam berbunyi sederhana.

“Niat saya hanya satu, memberikan kebanggaan dan hiburan bagi masyarakat Madura.”

Dua kata di kalimat itu yang perlu diperhatikan: kebanggaan, dan hiburan. Yang hendak diberikan adalah sesuatu yang bisa dibanggakan orang Madura di hadapan orang Indonesia lain, dan sesuatu yang bisa dinikmati pada hari Sabtu malam di pulau yang tidak punya banyak hiburan.

Pada musim pertamanya, 2016, klub itu finis ketiga. Tahun berikutnya kelima.

Tujuh Ribu Kursi

Perjuangannya tidak selesai ketika klubnya berdiri. Dalam banyak hal, di situ ia baru mulai.

Angka yang paling menjelaskan klub ini bukan peringkatnya, melainkan kapasitas kandangnya: tujuh ribu tempat duduk. Untuk perbandingan, pada 12 September 2026 pertandingan Persija melawan Persib di Jakarta ditonton 58.961 orang — delapan kali seluruh kapasitas stadion Madura United, dalam satu pertandingan saja.

Madura United bermain di liga yang sama dengan klub-klub itu, dari sebuah pulau yang termasuk paling miskin di Jawa Timur, tanpa satu pun kantor pusat perusahaan besar di dalamnya. Seluruh pendapatan pertandingan kandangnya dibatasi tujuh ribu kursi.

Pada September 2026 presidennya menuliskan satu hitungan yang memperlihatkan betapa sempit ruang geraknya. Komite Disiplin PSSI mendenda klub itu tiga puluh juta rupiah karena pada menit 90+3 pertandingan melawan Persijap Jepara di Pamekasan, seseorang di tribun melemparkan sebuah pisang ke arah bangku cadangan tim tamu.

“Tiga puluh juta rupiah itu setara dengan seribu penonton yang datang ke stadion dan membeli tiket,” tulisnya. “Artinya, satu orang yang melempar dari tribun baru saja menghapus hasil kerja seribu orang yang menabung, mengantre, membayar dan duduk tertib sampai peluit panjang.”

Lalu ia sebutkan ke mana uang itu seharusnya pergi: “untuk pemain, untuk akademi, untuk perawatan stadion.”

Satu buah pisang, satu lemparan, seribu tiket. Di Pamekasan, satuan uang yang dipakai menghitung bukan miliar, melainkan lembar tiket.

Di dalam keterbatasan itulah hal berikut terjadi. Pada musim 2023–2024, Madura United finis di urutan kedua Liga 1 — posisi tertinggi yang pernah dicapai klub Madura di kasta tertinggi.

Musim berikutnya klub itu bermain di Asia: di AFC Challenge League 2024–2025 ia memuncaki grupnya, menyingkirkan Tainan City 3–0 pada agregat di perempat final, lalu kalah di semifinal dari Preah Khan Reach Svay Rieng — bermain 3–3 di Pamekasan, lalu kalah 0–3 di Kamboja.

Sepuluh tahun sesudah pulau itu kehilangan klubnya karena satu gol di menit terakhir, klub dari pulau yang sama bermain di semifinal kompetisi antarklub Asia.

Itulah kebanggaan yang dimaksud. Bukan menghapus apa pun dari Madura — carok dan celurit, garam dan tembakau tetap bagian dari riwayat dan kenyataan pulau itu. Yang berubah adalah daftarnya tidak lagi berhenti di situ. Ketika orang di luar pulau hari ini menyebut Madura, salah satu yang mungkin muncul adalah sebuah klub yang pernah menjadi runner-up liga tertinggi dan pernah bermain di semifinal Asia. Itu penambahan yang tidak bisa dilakukan oleh pidato mana pun.

Ujian terakhirnya datang pada 2026, dan datang dengan cara yang hampir mengulang 2014.

Pada 18 Mei 2026, sesudah kalah 1–2 dari PSIM Yogyakarta, Madura United berada di peringkat kelima belas Super League dengan tiga puluh dua poin dari tiga puluh tiga pertandingan. Di bawahnya Persis Solo dengan tiga puluh satu poin. Selisih satu angka, satu pertandingan tersisa.

Pada Sabtu, 23 Mei 2026, di Gelora Bangkalan, Madura United mengalahkan PSM Makassar dua gol tanpa balas lewat dua gol Junior Brandao pada menit ke-43 dan ke-54. Kali ini menit-menit terakhir tidak mengambil apa pun.

Jawaban atas musim itu datang tiga setengah bulan kemudian. Pada Minggu malam, 6 September 2026, di laga perdana kandang Super League 2026/2027, klub itu menang 2–0 atas Persijap Jepara lewat dua gol Dimitar Mitkov. Sesudah pertandingan, presidennya tidak berbicara tentang skor.

“Alhamdulillah, laga perdana kami berakhir dengan kemenangan,” katanya. “Tapi yang membuat dada ini penuh bukan angkanya, melainkan tribun yang penuh.”

Kalimat itu baru punya arti kalau diletakkan di sebelah dua hal: musim yang baru saja hampir berakhir dengan degradasi, dan tribun Persepam yang pada 2014 justru mengosong ketika klubnya sedang diperebutkan.

Pada Desember 2025, Aliansi Jurnalis Pamekasan memberi Achsanul Qosasi penghargaan sebagai Tokoh Inspiratif Penggerak Sepak Bola Madura. Disebutkan itu penghargaan pertama yang ia terima sesudah lima belas tahun mengurus sepak bola di pulau ini.

Lima belas tahun. Hitung dari mana angka itu dimulai, dan yang ditemukan bukan 2016, melainkan masa Persepam — termasuk dua musim yang berakhir dengan kehilangan.

Pada 2014 ia kehilangan klubnya, dan yang tidak ikut hilang hanya sebuah nama. Empat belas bulan kemudian nama itu diberi klub lagi, dan klub itu masih ada sampai hari ini.

Dari seluruh yang dikerjakannya untuk Madura, inilah yang paling mudah dilihat orang dari jauh — dan satu-satunya yang bisa membuat satu pulau berdiri bersama-sama pada hari Sabtu malam.

Prof. Dr. Achsanul Qosasi
Tentang penulis
Prof. Dr. Achsanul Qosasi
Dari Madura untuk Indonesia
Kenali lebih dekat →