Di Madura, keputusan melanjutkan sekolah ke perguruan tinggi jarang menjadi keputusan tentang kemampuan anaknya. Ia lebih sering menjadi keputusan tentang kemampuan orang tuanya.
Pulau itu terdiri dari empat kabupaten, dan tiga di antaranya termasuk kabupaten termiskin di Jawa Timur. Menurut data Badan Pusat Statistik untuk 2025, Sampang menempati peringkat pertama dari tiga puluh delapan kabupaten dan kota di provinsi ini, dengan persentase penduduk miskin dua puluh persen. Bangkalan di peringkat kedua, 18,3 persen. Sumenep ketiga, sekitar tujuh belas persen. Pamekasan dua belas persen. Keempatnya di atas rata-rata provinsi maupun nasional.
Di keluarga dengan angka seperti itu, biaya kuliah bukan satu-satunya perkara. Yang memberatkan adalah biaya di sekitarnya: menyeberang laut, menyewa kamar di Surabaya atau Malang, hidup berbulan-bulan di kota orang. Bagi banyak keluarga di Sumenep dan Sampang, jumlah itulah yang menentukan apakah anaknya lanjut atau berhenti setelah SMA.
Akibatnya berjalan dua arah, dan dua-duanya merugikan pulau itu. Anak yang tidak mampu menyeberang berhenti sekolah. Anak yang mampu menyeberang, sebagian besar, tidak pulang.
Itulah persoalan yang hendak dikerjakan Universitas KH Bahaudin Mudhary Madura di Sumenep (UNIBA Madura).
Maksudnya sederhana: supaya anak muda Madura tidak lagi harus memilih antara melanjutkan sekolah dan tetap tinggal dekat keluarganya, dan supaya mutu sumber daya manusia di pulau itu naik tanpa harus lebih dulu kehilangan orang-orangnya.
Dan ini bukan perguruan tinggi pertama yang diusahakan Achsanul Qosasi.
Sampang, 2010
Di halaman kampus Politeknik Negeri Madura di Taddan, Camplong, Sampang, ada sebuah prasasti batu yang berdiri rendah di atas rumput. Kepalanya berbunyi PENGGAGAS & PENDIRI, di bawahnya tertulis Sampang Madura, Jawa Timur — Thn. 2010, lalu nama kampusnya ketika itu: Politeknik Madura.
Di bawahnya sembilan nama, berjajar dua kolom.
Noer Tjahja, Bupati Sampang. M. Syaifurrahman Noer. Achmad Jazidie. M. Orianto. Era Purwanto. Purwoko Rahardjo. Eddy Soekamto. M. Anwar Zain.
Dan satu nama lagi di kolom kiri: Achsanul Qosasi.
Tahun yang terpahat di batu itu 2010 — dua tahun sebelum kampusnya berdiri, dan delapan tahun sebelum ia membangun kampus dengan nama keluarganya sendiri di Sumenep. Pada 2010 ia anggota Dewan Perwakilan Rakyat mewakili Madura dan Wakil Ketua Komisi XI.
Poltera berdiri pada 2012, dan dimulai tanpa gedung. Selama kira-kira empat tahun, administrasi dan perkuliahannya berlangsung menumpang di Politeknik Elektronika Negeri Surabaya dan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya, sementara kampusnya di Madura disiapkan. Ia dibuka dengan tiga program diploma tiga dan sekitar enam puluh mahasiswa baru. Direktur pertamanya Ir. Achmad Ansori, DEA.
Program-program yang dipilih tidak diambil dari daftar jurusan yang laku di kota. Yang dibuka adalah Teknik Listrik Industri, Teknik Mesin Alat Berat, dan Teknik Bangunan Kapal — tiga keahlian yang masuk akal untuk sebuah pulau yang hidup dari laut dan membutuhkan tenaga teknis yang bisa bekerja di tempatnya sendiri.
Pada pertengahan 2016 kampus itu pindah ke Sampang, dan pada 8 Oktober 2016 dua gedungnya diresmikan. Pada tahun yang sama Poltera masuk dalam daftar tiga puluh lima perguruan tinggi negeri baru melalui Peraturan Presiden Nomor 10 Tahun 2016.
Artinya, keinginan menambah perguruan tinggi di Madura bukan sesuatu yang muncul belakangan pada diri Achsanul. Delapan tahun sebelum UNIBA menerima mahasiswa pertamanya, ia sudah tercatat sebagai salah satu pendiri perguruan tinggi di pulau yang dicintainya.
Anak yang Tangannya Dicium Gurunya
Ada satu hal yang menjelaskan mengapa perkara ini ia kerjakan dua kali, dan letaknya empat puluh tahun lebih ke belakang.
Di sekolah dasar di Desa Daramista, Kecamatan Lenteng, Sumenep, pada tahun 1970-an, ada satu murid yang tidak mencium punggung tangan gurunya. Yang terjadi sebaliknya. Guru-gurunya yang mencium punggung tangan kanannya.
Murid itu anak bungsu KH Bahaudin Mudhary — ulama besar dan ahli metafisika yang dihormati bukan hanya di desanya, tetapi menjadi panutan alim ulama dan masyarakat Madura.
Penghormatan itu berbentuk hal-hal yang sangat konkret. Ia selalu tahu lebih dulu kapan akan ada pemeriksaan rambut, kuku, dan isi tas. Kalau harus menjawab soal di papan tulis, guru lebih dulu bertanya apakah ia bisa; kalau tidak bisa, ia tidak mendapat giliran. Kalau nilai ulangannya jelek, kertasnya tidak dibagikan di hadapan murid lain. Teman sekelasnya tahu kodenya: kalau kertas ulangannya dibagikan, berarti nilainya bagus.
Orang bertanya kepadanya, enak ya jadi anak ulama? Jawabannya ia tulis sendiri bertahun-tahun kemudian, dalam satu kalimat pendek.
“Aku tidak menikmatinya!”
Perlakuan yang ia anggap berlebihan itu tidak membuatnya tinggi hati. Yang terjadi justru sebaliknya: ia tumbuh menjadi anak yang minder dan gemetar bila harus maju ke depan kelas.
Lalu ia kehilangan ibunya pada 1978 dan ayahnya setahun kemudian. Masih belasan tahun, ia memutuskan meninggalkan Madura — bukan karena kekurangan, melainkan karena khawatir hidupnya terlalu mudah bila ia tetap tinggal sebagai anak seorang kiai besar.
Ia menyeberang. Ia menyelesaikan sekolahnya di Jakarta.
Artinya ia termasuk dalam dua golongan sekaligus yang disebut di awal tulisan ini: anak Madura yang harus menyeberang untuk sekolah, dan anak Madura yang sesudah menyeberang tidak pulang — selama empat puluh tahun berikutnya.
Nama Ayah, Nama Ibu
Yang berdiri lebih dulu bukan kampusnya, melainkan yayasannya. Sejak 2015 Achsanul Qosasi memimpin Yayasan Kudsiyah Bahaudin Mudhary Madura.
Nama yayasan itu menggabungkan dua nama. Bahaudin Mudhary adalah nama ayahnya. Kudsiyah adalah nama ibunya. Di satu papan nama di Sumenep, kedua nama itu hari ini berdiri berdampingan.
Pembangunan kampusnya berjalan bertahap dan terdokumentasi rapi.
Izinnya keluar pada 6 Juni 2018, melalui Surat Keputusan Nomor 492/KPT/I/2018, untuk sebuah sekolah tinggi: Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi KH Bahaudin Mudhary Madura, atau STIEBA Madura. Perkuliahan dimulai pada September 2018, dan kampus itu diresmikan pada 10 Desember 2018.
Lima belas bulan kemudian statusnya naik. Melalui Surat Keputusan Nomor 791/KPT/I/2019 tertanggal 3 September 2019, sekolah tinggi itu berubah menjadi universitas.
Lalu bagian yang paling jarang disebut orang ketika berbicara tentang kampus baru.
Pada 2023, UNIBA Madura mewisuda angkatan pertamanya. Jumlahnya sembilan puluh delapan orang.
Sembilan puluh delapan adalah angka yang kecil. Di kampus besar, itu jumlah satu angkatan satu program studi. Tetapi untuk sebuah universitas yang baru berumur empat tahun, di kabupaten yang selama puluhan tahun mengirim anak-anak terbaiknya keluar pulau, sembilan puluh delapan orang berarti sembilan puluh delapan keluarga yang tidak perlu melepas anaknya menyeberang.
Itu juga satuan yang pantas dipakai menghitung kampus ini — bukan luas tanahnya, bukan jumlah gedungnya, melainkan berapa anak Madura yang tidak harus pergi.
Yang Diajarkan, dan di Mana
Hari ini UNIBA Madura memiliki lima fakultas: Ekonomi dan Bisnis, Ilmu Komunikasi, Teknologi Informasi dan Teknik, Hukum, serta Bahasa Asing. Rektornya Prof. Rachmad Hidayat.
“Kami ingin melahirkan lulusan yang tidak hanya unggul dalam bidang akademik, tetapi juga memiliki karakter kuat,” kata rektornya pada Juli 2026, ketika menerangkan bahwa kampus itu sedang menyesuaikan kurikulumnya dengan kebutuhan industri.
Ketua yayasannya sendiri mengajar di sana. Mata kuliahnya theory of knowledge, dengan satu pokok bahasan yang ia ulang-ulang: perbedaan itu kekuatan, dan berbeda itu biasa dalam hidup.
Tetapi ruang kuliah bukan satu-satunya tempat kampus ini mengajar.
Mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis dikirim berjualan di Pasar Anom, pasar rakyat terbesar di Sumenep — bukan sebagai kunjungan studi sehari, melainkan sebagai tempat belajar berjualan yang sesungguhnya, berdiri di kios di sebelah pedagang yang sudah puluhan tahun di sana. Pesan ketua yayasannya kepada mereka singkat: harus berani menjual dan mencipta.
Kalimat itu tidak lahir dari buku teks. Orang yang mengatakannya mendirikan koperasi di kampung orang pada 1998, dan koperasi itu sempat tutup pada tahun kedua.
Yang Datang ke Sumenep
Selama puluhan tahun arus pendidikan di Madura berjalan satu arah: keluar. Sejak 2025, arusnya mulai berbalik.
Pada Januari 2025, ketika kampus itu berumur tujuh tahun, UNIBA Madura membuka delapan program studinya untuk mahasiswa asing dengan beasiswa penuh. Rombongan pertamanya datang dari Thailand dan Malaysia. Pada tahun yang sama kampus itu mengirim dua dosennya mengajar di universitas mitra di Australia dan Inggris.
“Internasionalisasi ini merupakan salah satu upaya nyata kami untuk membangun SDM yang unggul,” kata rektornya.
Lalu pada Agustus 2025 terjadi sesuatu yang belum pernah dilakukan kampus lain di Indonesia.
Empat pemain asing Madura United resmi menjadi mahasiswa UNIBA Madura: Luiz Marcelo Morais dos Reis dari Brasil, Albertine Joao Pereira dari Guinea, serta Jordy Wehrmann dan Jasey Wehrmann dari Belanda. Seorang pemain Indonesia dari klub yang sama, M Riski Afrisal, mendaftar sebagai mahasiswa baru pada kesempatan yang sama. Jadwal kuliahnya disusun mengitari jadwal latihan dan pertandingan, dengan pembagian empat puluh persen daring dan enam puluh persen tatap muka.
“Ini juga bagian wujud dari semangat Uniba untuk terus berinovasi,” kata rektornya. “Dengan pola seperti ini, maka akan memungkinkan bagi mahasiswa tersebut untuk tetap produktif.”
Dan dari sisi klubnya, alasannya disebut terus terang.
“Dengan pendidikan dan keahlian yang mereka miliki melalui Uniba Madura ini,” kata Achsanul Qosasi, “masa depan para pemain akan tetap cerah.”
Di situlah dua pekerjaan yang terlihat terpisah bertemu di satu meja. Klub yang ia dirikan pada 2016 memberi pulau itu sesuatu yang bisa dibanggakan pada hari Sabtu malam. Kampus yang yayasannya ia pimpin memberi pemain-pemain klub itu sesuatu yang masih berguna ketika mereka berhenti bermain.
Pada Februari 2026 ia duduk sebagai penguji dalam ujian promosi doktor seorang dosen kampus itu sendiri. Kalimatnya di sana pendek, dan paling tepat dipakai menjelaskan seluruh halaman ini.
“Investasi terbaik sebuah institusi pendidikan adalah pada manusianya.”
Kembali ke anak di Daramista pada tahun 1970-an.
Nama ayahnya waktu itu memberinya kemudahan yang tidak ia kerjakan: soal yang tidak perlu dijawab, pemeriksaan yang sudah diketahui lebih dulu, nilai jelek yang tidak dibagikan. Ia menyebutnya priviledge, dan ia menolak menikmatinya.
Empat puluh tahun kemudian nama yang sama dipasang di sebuah universitas. Dan di universitas, nama tidak bisa membelikan apa pun kepada siapa pun. Tidak ada mahasiswa UNIBA Madura yang lulus karena ayahnya dihormati. Mereka lulus karena mengerjakan tugasnya.
Nama yang dulu memberi satu anak terlalu banyak, sekarang memberi anak orang lain satu tempat di mana tidak ada yang diberikan — hanya disediakan. Dan kali ini tempat itu berada di pulau yang sama dengan rumah mereka.
Ia menuliskan kesimpulannya sendiri dalam memoarnya, dan kalimat itu terbaca seperti kalimat yang ditulis untuk mahasiswa di Madura.
“Masa depan bisa digenggam, dari mana pun asalmu, dari mana pun kamu memulai, di mana pun kamu berpijak.”



