Dulu, kalau dua orang Madura dari kabupaten berbeda bertemu di satu tempat, percakapannya bisa berjalan begini:
“Heh, kamu orang Bangkalan?”
“Iya.”
“Saya orang Sumenep!”
Dan ujung-ujungnya ribut.
Achsanul Qosasi menuliskan percakapan itu dalam memoarnya sebagai keterangan tentang pulau tempat ia lahir. Bagi orang Madura, katanya, kemenangan adalah harga diri dan kekalahan adalah aib.
“Mengarahkan karakter ini menjadi lebih positif perlu upaya keras,” tulisnya.
Salah satu upaya itu berdiri pada 2016, dan pada mulanya tidak terlihat seperti upaya apa pun. Ia hanya sebuah klub sepak bola.
Bahkan, dulu, ketika Madura United kalah bertanding, pesan pendek berdatangan ke telepon pendirinya. Isinya kurang lebih seragam.
“Udahlah, Pak, bubarin aja. Malu-maluin Madura, kalah mulu.”
Ia tidak membubarkannya.
Dalam acara peluncuran tim pada 2018, sesepuh Madura, budayawan dan penyair Zawawi Imron, menitipkan pesan yang belakangan terdengar seperti garis kerja: agar Madura United terus membawa nama baik dan menyatukan Madura.
Dua hal itu — nama baik dan persatuan — bukan hal yang biasanya diminta dari sebuah klub sepak bola.
Yang kemudian terjadi
Suporter Pamekasan mulai datang ke Sumenep. Suporter Sumenep datang ke Pamekasan. Begitu juga dari Sampang dan Bangkalan. Orang-orang yang dulu berkelahi hanya karena berasal dari kabupaten berbeda kini duduk di tribun yang sama, bersorak bersama ketika menang, dan menangis bersama ketika kalah.
“Tidak menyangka masyarakat yang begitu keras dan temperamen bisa meluruhkan ego mereka demi persatuan rakyat Madura,” tulis Achsanul dalam memoarnya. “Madura United, Madura bersatu — dari ujung timur sampai ujung barat.”
Kalimat itu bisa saja hanya slogan pemilik klub tentang klubnya sendiri. Yang membuatnya lain adalah orang-orang di luar klub mengatakan hal yang sama, dari empat sudut yang sama sekali berbeda.
K.H. Hasani bin Zubair dari Majelis Keluarga Pondok Pesantren Nurul Cholil, Bangkalan, menyebut kehadiran klub itu sebagai sesuatu yang membuat orang Madura bangga dan senang.
“Harapan, doa, dan dukungan bukan hanya dari masyarakat, tapi juga dari santri,” katanya. “Bagaimana Madura United bisa mengharumkan nama Madura di kancah nasional. Kita doakan terus jaya.”
Ada satu hal yang tidak boleh dilewatkan dari kalimat itu, dan letaknya bukan pada doanya. Nurul Cholil berada di Bangkalan — ujung barat pulau. Sementara pertengkaran yang dituliskan Achsanul di awal memoarnya persis terjadi antara orang Bangkalan dan orang Sumenep, ujung yang satunya lagi.
Dari tribun, Mohammad Hilmi Ali, salah seorang suporter, meringkasnya dalam satu kalimat:
“Terima kasih telah menyatukan Madura lewat sepak bola.”
Dan pandangan dari luar pulau datang dari jurnalis olahraga nasional, Hardiman Koto:
“Madura United telah dan akan terus menjadi ikon pemersatu orang-orang di bumi Madura. Ikon yang menterang, yang menjelaskan sepak bola adalah cinta. Cinta orang-orang dari bumi Madura. Dari Sumenep hingga Bangkalan, dari Sampang hingga Pamekasan. Semua bersatu demi Madura United.”
Empat kabupaten disebut satu per satu. Bukan kebetulan — sebab persoalan yang hendak diselesaikan memang persoalan antar-keempatnya.
Kalah bukan berarti hina
Yang paling sulit diubah bukan kebiasaannya, melainkan cara ia memaknai kekalahan.
Di tanah tempat karapan sapi tidak selesai sampai yang kalah merasa menang, gagasan bahwa kekalahan bisa dinikmati bersama-sama bukan gagasan yang gampang diterima. Achsanul menuliskannya dalam satu kalimat pendek: syukuri kemenangan, nikmati kekalahan.
Itulah sebabnya yang berubah bukan hanya soal siapa menang. Yang berubah adalah orang-orang yang dulu tidak bisa duduk bersama, sekarang menangis bersama.
Pada Desember 2025, Aliansi Jurnalis Pamekasan memberi Achsanul Qosasi penghargaan sebagai Tokoh Inspiratif Penggerak Sepak Bola Madura. Disebutkan bahwa itu penghargaan pertama yang ia terima setelah lima belas tahun mengurus sepak bola di pulau ini.
Lima belas tahun untuk sebuah penghargaan pertama terdengar lama. Tetapi untuk mengubah kekalahan sebagai aib menjadi perekat persatuan, lima belas tahun barangkali justru cepat.